Mau Lebaran, 7 Saham Emas RI Malah Nyungsep

pembukaan bursa saham

Saham emiten pertambangan emas di Indonesia terpantau melemah pada perdagangan sesi I Selasa (18/4/2023), di tengah kembali lesunya harga emas acuan dunia.

Berikut pergerakan saham emiten tambang emas pada perdagangan sesi I hari ini.

Hingga pukul 10:59 WIB, saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) memimpin koreksi saham pertambangan emas di RI pada hari ini, yakni ambles 3,88% ke posisi harga Rp 99/saham.

Sedangkan untuk saham raksasa pertambangan emas RI yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga terkoreksi masing-masing 2,4% dan 0,94%.

Sementara untuk saham PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) cenderung stagnan di harga Rp 64/saham.

Koreksinya harga saham emas di RI terjadi di tengah jebloknya kembali harga emas dunia.

Harga emas terjun bebas di tengah ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Pada penutupan perdagangan Senin kemarin, emas ditutup melemah 0,41% di posisi US$ 1.994,77 per troy ons.

Pelemahan juga membuat emas terlempar dari level psikologis US$ 2.000 per troy ons untuk pertama kalinya sejak 10 April atau sepekan terakhir.

Pelemahan juga memperpanjang tren negatif emas. Dengan pelemahan kemarin, emas sudah melandai dalam dua hari penutupan perdagangan dengan pelemahan sebesar 2,2%.

Harga emas juga masih melandai pada pagi hari ini. Per pukul 06: 33 WIB, harga emas ada di posisi US$ 1.994,24 per troy ons. Harganya melandai 0,03%.

Analis dari Kitco Metals, Jim Wyckoff, menjelaskan pelemahan emas disebabkan sejumlah faktor mulai dari ekspektasi pasar mengenai kebijakan The Fed hingga aksi ambil untung (profit taking).

Ekspektasi pasar mengenai kebijakan The Fed membuat dolar AS menguat dan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS naik tajam.

Indeks dolar menguat ke posisi 102,10 pada posisi penutupan perdagangan kemarin, tertinggi dalam lima hari terakhir.

Yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun berada di posisi 3,59% kemarin, tertinggi sejak 10 Maret 2023.

“Penguatan dolar dan yield serta aksi profit taking trader yang mengambil unting membuat emas tertekan. Harga emas melemah,” tutur Wyckoff, kepada Reuters.

Dolar AS yang menguat membuat emas semakin mahal dan tidak terjangkau untuk investasi. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil atau yield sehingga penguatan yield membuat emas kurang menarik.

Kendati melemah, Wyckoff masih percaya emas bisa menguat ke depan.

“Saya tidak akan terkejut jika emas akan mencetak rekor baru pada beberapa pekan ke depan,” ujarnya.

Salah satu penentu pergerakan emas adalah keputusan The Fed. Jika The Fed mulai melunak maka sang logam mulia diyakini akan mengangkasa.

Survei CME FedWatch menunjukkan 86% pelaku pasar bertaruh The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada Mei mendatang.

The Fed kemudian diperkirakan akan menahan suku bunga di Juni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*