Jelang Libur Panjang, Rupiah Melemah Lagi

Petugas menghitung uang  dolar di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Blok M, Jakarta, Senin, (7/11/ 2022)

Rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (18/4/2023). Mata Uang Garuda pun melanjutkan koreksi jelang libur panjang Hari Raya Idul Fitri.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,1%, kemudian bertambah menjadi 0,24% ke Rp 14.820/US$ pada pukul 9:09 WIB.

Awal pelan kemarin rupiah merosot hingga 0,61%. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan yang menurun jauh mencapai US$ 2,91 miliar. Posisi surplus ini dicapai setelah impor Indonesia tercatat US$23,50 miliar lebih rendah dari ekspor sebesar US$ 20,59 miliar

Surplus tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Februari 2023 yang mencapai US$ 5,48 miliar. Surplus ini jauh lebih rendah dari konsensus pasar yang dihimpun Tim Riset CNBC Indonesia dari 14 lembaga. Lembaga tersebut memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Maret 2023 sebesar US$ 4,19 miliar.

Rupiah pun tertekan.

Perhatian pada perdagangan Selasa (18/4/2023) tertuju pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memproyeksi bank sentral akan menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus, semuanya memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 5,75%.

Namun, yang perlu diperhatikan tentunya berbagai proyeksi yang akan diberikan BI, mulai dari inflasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia, hingga suku bunga The Fed. Apalagi, pejabat elit The Fed dan Menteri Keuangan AS, Janet Yellen berbeda pendapat.

Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan meski bank sentral sudah agresif menaikkan suku bunga, tetapi masih belum membuat banyak progres membawa inflasi kembali ke target 2% dan perlu untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi lagi.

Selain itu, Presiden The Fed wilayah Atlanta, Raphael Bostic mengatakan kebaikan suku bunga 25 basis poin sekali lagi akan membuat The Fed mencapai terminal rate dengan lebih yakin mampu menurunkan inflasi ke target.

Tetapi di sisi lain, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan The Fed kemungkinan tidak perlu lagi menaikkan suku bunga. Sebabnya, pasca kolapsnya Silicon Valley Bank (SVB) dan dua bank lainnya, perbankan di Amerika Serikat kemungkinan akan lebih berhati-hati menyalurkan kredit, sehingga likuiditas akan menjadi lebih ketat.

“Perbankan kemungkinan akan lebih berhati-hari dalam kondisi saat ini. Kita sudah melihat pengetatan standar penyaluran kredit di sistem perbankan dibandingkan sebelumnya, dan kemungkinan akan ada pengetatan lebih lanjut. Pembatasan kredit bisa menjadi substitusi untuk kenaikan suku bunga The Fed,” kata Yellen dalam adara “Fareed Zakaria GPS” CNN, yang dikutip¬†CNBC¬†International, Minggu (17/4/2023).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*