5 Fakta Perang Rusia-Ukraina: Jet Tempur NATO, Putin & China

Presiden Rusia Vladimir Putin (SPUTNIK/AFP via Getty Images/GAVRIIL GRIGOROV)

Peperangan antara Rusia dan Ukraina masih terus berlangsung. Saat ini, keduanya memfokuskan serangan di wilayah Timur, di mana Rusia menginginkan untuk mengambilalih wilayah Donbass secara keseluruhan.

Berikut perkembangan terbarunya sebagaimana dirangkum CNBC Indonesia, Senin, (17/4/2023).

1. Negara NATO Beri Jet Tempur ke Ukraina

Slovakia mengirim 13 jet tempur era Soviet ke Ukraina. Hal ini ditegaskan Menteri Pertahanan Jaroslav Nagy di Twitter.

“Bahwa ke-13 MIG-29 Slovakia telah diserahkan dengan aman ke Angkatan Udara Ukraina,” tulisnya.

“Bangga berada di pihak yang benar, melakukan hal yang benar untuk membantu melindungi kehidupan. Kami Mendukung Ukraina,” tegasnya.

Pemerintah Slovakia pun menyetujui pengiriman jet ke Ukraina pada bulan Maret, dengan beberapa pesawat dikirimkan bulan lalu. Polandia juga telah menawarkan MiG-29 ke Ukraina.

2. Menhan China Bertemu Xi Jinping

Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Menteri Pertahanan China Li Shangfu di Moskow pada Minggu waktu setempat. Keduanya saling memuji kerja sama militer yang tengah terjalin melalui deklarasi kemitraan “tanpa batas”.

Cuplikan pertemuan menunjukkan Putin berjabat tangan dengan Li dan kemudian duduk di meja. Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu juga hadir.

“Kami bekerja secara aktif melalui departemen militer kami, secara teratur bertukar informasi yang berguna, bekerja sama di bidang teknis militer, dan mengadakan latihan bersama,” kata Putin, dikutip Reuters.

“Tidak diragukan lagi, ini adalah bidang penting lainnya yang memperkuat sifat strategis dan saling percaya dari hubungan kita,” ujar Putin lagi.

3. Menlu Rusia “Safari” ke Amerika Latin

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov memulai tur ke Amerika Latin hari ini. Ia akan mengunjungi Brasil, Venezuela, Nikaragua, dan Kuba.

“Perjalanan, yang berlangsung hingga Jumat, akan diisi dengan pembicaraan dengan para pemimpin dan menteri luar negeri negara-negara tersebut,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia.

Lembaga itu menambahkan bahwa Lavrov memiliki agenda khusus yang ditujukan ‘untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan”. Baik bidang politik, perdagangan, ekonomi, pendidikan, kemanusiaan, budaya, dan lainnya.

“Tujuan utama dari tur adalah untuk memperkuat kerjasama antara negara-negara di bidang politik, ekonomi, perdagangan dan kemanusiaan dan budaya,” kata kementerian.

“Bagi kami, Amerika Latin adalah kawasan yang bersahabat, salah satu pusat pembentukan dunia multipolar, di mana Rusia bermaksud untuk mempertahankan dialog yang dinamis, mengembangkan kerja sama yang konstruktif, tidak tunduk pada perintah apa pun dari luar,” ujarnya lagi Telegram.

Rusia sering mempromosikan konsep ‘dunia multipolar’ dan mengkritik persepsi hegemoni Barat dalam urusan global. Sejak serangan ke Ukraina, Moskow telah meningkatkan upaya untuk memperkuat aliansi dan persahabatan di luar negeri, seperti dengan China, Brasil, dan India.

4. Pengkritik Kremlin Dipenjara

Pengkritik Kremlin, Vladimir Kara-Murza, divonis penjara 25 tahun oleh pengadilan Moskow pada Senin. Ini merupakan hukuman terberat sejak Rusia menginvasi Ukraina, setelah ia dinyatakan bersalah atas pengkhianatan dan pelanggaran lain yang disangkalnya.

Kara-Murza, ayah tiga anak dan politisi oposisi yang memegang paspor Rusia dan Inggris, menghabiskan waktu bertahun-tahun menentang Putin. Ia diketahui melobi pemerintah Barat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dan individu Rusia atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Jaksa negara, yang telah meminta pengadilan memenjarakannya selama 25 tahun, menuduhnya melakukan pengkhianatan dan mendiskreditkan militer Rusia. Ini setelah ia mengkritik apa yang disebut Moskow sebagai ‘operasi militer khusus’ di Ukraina.

5. Ancaman “Kiamat” Gandum

Ancaman “kiamat” gandum melanda Eropa. Ini setelah Polandia dan Hongaria mengumumkan larangan beberapa impor dari Ukraina.

Diketahui, beberapa pelabuhan Laut Hitam telah diblokir setelah serangan Rusia ke Ukraina tahun lalu. Ini membuat biji-bijian Ukraina dalam jumlah besar mandek di negara-negara Eropa Tengah karena kemacetan logistik dan akhirnya memukul harga bagi petani lokal.

“Langkah pertama menurut kami harus pembukaan transit, karena ini cukup penting. Dan itu harus dilakukan tanpa syarat dan setelah itu kita akan membicarakan hal lain,” kata Menteri Pertanian Mykola Solsky.

“Dalam hal angka, segala sesuatu yang melintasi perbatasan Polandia (dari Ukraina)… adalah sekitar 10% dari semua yang diekspor Ukraina,” katanya dalam komentar yang dipublikasikan di aplikasi pesan Telegram oleh Kementerian Pertanian seraya menambahkan pengiriman ke Hungaria menyumbang sekitar 6% dari ekspor pertanian Ukraina.

Ia juga mengatakan akan ada pembicaraan tambahan minggu ini di Rumania pada hari Rabu, dan di Slovakia pada hari Kamis. Ukraina biasanya mengekspor sebagian besar barang pertaniannya, terutama biji-bijian, melalui pelabuhan Laut Hitamnya yang dibuka blokir Juli lalu sejalan dengan kesepakatan antara Ukraina, Turki, Rusia, dan PBB

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*